Jejak Arca Hindhu-Budha dalam Songket Bima

 Apakah Songket Bima Nggusu Waru Menyimpan Jejak Arca Hindu-Budha?




                                                    Ruang Pameran Museum Asi Mbojo Bima


Salah satu kain songket Bima yang memiliki ragam hias indah adalah kain songket yang bernama nggusu waru, merupakan hasil budaya etnis Mbojo. Kain songket ini lebih dari sekedar ekspresi seni, diyakini memiliki makna simbolis yang melekat bagi masyarakat setempat, mengandung makna filosofis dan nilai kebudayaan tradisional Bima yang religius (V.J. Herman, 1990:19). 

Waru dalam Bahasa Bima berati delapan, ragam hias yang berbentuk bunga ini memiliki delapan sudut. Motif bunga seperti ini juga cukup banyak ditemukan di beberapa wilayah nusantara di mana memiliki pengaruh Islam. Diketahui, Islam datang melalui perdagangan Persia, India, dan Tiongkok sejak abad ke-7, sehingga  juga membawa pengaruh baik kepercayaan, budaya, dan seni khususnya seni tekstil. Pada beberapa arca Hindu-Budha abad ke-8, beberapa pakaian atau kain yang digunakan arca-arca memiliki motif bunga dengan delapan sudut. Bila disandingkan dengan nggusu waru, maka motif keduanya memiliki kesamaan garis dan pola.

Nggusu Waru, Identitas Pemimpin Bima

Nggusu waru secara harpiah berarti delapan sudut yang menyatu, sementara makna simbolisnya jauh lebih mendalam. Delapan makna tersebut diyakini menjadi sifat-sifat yang harus dimiliki, yaitu: 1). Hendaklah bertaqwa pada Tuhan dalam menegakkan keadilan; 2). Memiliki kecerdasan, cita-cita, bertanggung jawab; 3). Seorang pemimpin harus jujur dan menegakkan kebenaran; 4). Ikhlas dan penuh pengabdian; 5). Bertanggung jawab atas segala keputusannya; 6). Kesadaran dan kemampuan jasmani dan rohani; 7). Memiliki kewibawaan dan kesaktian; 8). Berasal dari keturunan orang baik-baik (Umar, 1994: 17). Dari makna yang dimilikinya, maka kain songket nggusu waru menjadi identitas bagi para pemimpin tradisional masyarakat Bima.



                                                      Songket Nggusu Waru Bima di Museum Asi Mbojo


Tradisi menenun di Bima kemungkinan sudah ada sebelum abad ke-16. Pada umumnya menggunakan serat alami seperti kapuk lalu berkembang ke kapas. Pada masa kesultanan, muncul songket dengan benang emas. Motif seperti nggusu waru menjadi simbol status dan digunakan dalam upacara adat, motif memiliki makna mendalam. Nggusu waru (delapan arah), angka delapan pada dalam kepercayaan lampau melambangkan keseimbangan, arah hidup, dan kosmologi. Berakar dari tradisi lama yang kemudian dipengaruhi budaya luar. Setelah Islam berkembang, motif menjadi lebih geometris dan floral, makna juga berkembang mencakup nilai moral dan kepemimpinan.

Motif Bunga Delapan Arah dalam Kain Arca Hindu-Budha

Motif bunga dengan delapan kelopak yang menyerupai motif nggusu waru tersebut juga tergambar pada sebuah arca Hindu abad ke-13, Nandiswara, pada masa Kerajaan Singosari, yang disebut rosette pattern. 



                                         Ilustrasi rosette pattern dari buku "Patterned Splendour" (Lesley S Pullen)

Pada era yang sama, motif yang sama juga dikenakan oleh patung Durga Mahisasuramardini, patung Hindu Dewi Durga era Singosari, disebut motif lotus pattern dengan delapan kelopak.


                                     Ilustrasi lotus pattern dari buku "Patterned Splendour" (Lesley S Pullen)


Kedua motif tersebut pada masa sekarang menjadi desain khas songket Melayu. Dalam Sejarah Melayu, menjelaskan bahwa sejarah songket diperkenalkan dari India melalui Kedatuan Sriwijaya, Palembang dan Jambi.



                      Gambar songket Palembang/ Melayu dari buku "Patterned Splendour" (Lesley S Pullen)

Jika menelusuri lebih jauh, jejak pemintalan kapas ditemukan di India pada 3000 SM serta budidaya serat sutra pada 400M, sementara di Cina jejak budi daya sutra lebih lama ditemukan pada 2640 SM (Konservasi Koleksi Tekstil Museum Nasional, 2020: 21).

Dalam buku Patterned Splendour (Textiles Presented on Javaese Metal and Stone Sculptures Eighth to the  Fifteenth Cetury)  karya Lesley S Pullen mengenai seni tekstil pada arca Jawa sejak abad ke-8 sampai abad ke-15, menjelaskan bahwa kapas India tampaknya sangat diminati di Jawa, dan diimpor dalam jangka waktu yang lama. Para pedagang India mengangkut bahan kain putih melalui Asia Tenggara dalam perjalanan ke Tiongkok. Era Sriwijaya misalnya, para pedagang Asia Tenggara yang berdagang di pelabuhan Palembang akan mengekspor kembali kain tersebut bersama dengan komoditas lainnya. Potongan katun India impor tersebut seringkali kemudian menjadi pola untuk produksi tekstil Jawa (Pullen, 2021: 31). Pedagang muslim Timur Tengah yang sudah aktif di Selat Malaka saat itu memperkenalkan motif dari benang sutra dan benang emas.

Motif bunga delapan arah memiliki kemiripan dengan songket Melayu seperti di Palembang serta pengaruh dari jaringan budaya seperti Majapahit. Hal ini menunjukkan hubungan antar wilayah di Nusantara. Malaka menjadi pusat jalur perdagangan paling ramai yang menghubungkan Persia, India, dan Tiongkok pada masa itu dan mengalami perkembangan pesat pada abad ke-17.

Perdagangan dan Agama dalam Seni Tekstil

Sumatra Selatan menjadi salah satu daerah di Indonesia sebagai pusat kehidupan agama baru yang datang seperti Hindu dan Budha, dengan kekuasaan para raja dari zaman Syailendra dan Sriwijaya. Motif hias yang bersumber dari kesenian Pra-Hindu maupun dari luar seperti Cina dan Siam berpadu dalam berbagai karya seni khususnya tenun. Motif bunga matahari, melati, mawar, bintang berantai, gelombang, pucuk rebung, bunga bakung, daun pakis, dll menajdi ciri khas seni Sumatra Selatan. Tenunan songket sudah dikenal sejak jaman Sriwijaya dengan menggunakan bahan benang sutra dan emas. Motif hias tumbuhan juga sering dipakai pada hiasan ukiran kayu dan perabot rumah tangga (Album Seni Budaya Sumatra Selatan, 1982: 2-7).

Sejarah motif kain tenun yang dipengaruhi India di Indonesia bermula dari jalur perdagangan kuno, membawa motif  dengan elemen Hindu-Buddha yang diserap ke dalam budaya lokal, seperti nggusu waru Bima. Motif India seperti bunga dan geometris berakulturasi dengan budaya asli Indonesia menjadi wastra dengan makna kearifan lokal. Perpaduan ini menciptakan kekayaan wastra yang bernilai seni tinggi dan diwariskan turun-temurun. Pada abad ke-14 di era Majapahit, mencatat pengaruhnya sampai ke Bima, kemungkinan besar mempengaruhi budaya setempat termasuk seni dan perdagangan. 

Motif nggusu waru juga ditemukan dalam ukiran bangunan seperti di istana. Ini menunjukkan bahwa motif adalah bagian dari sistem visual budaya. Tradisi menenun di Bima masih hidup hingga sekarang. Banyak penenun aktif tetap menggunakan teknik tradisional, sementara kain terus berkembang dalam ekonomi modern.*

*Penulis: Annisa Hidayat



Comments

Popular Posts